mungkinkah masih ada ruang
sekedar bisa bicara
begitu lamban bergerak
terpaku hening lestari
hari tak ganti
penuh menunggu
tak juga mampu memastikan
gelisah tak menghindar
mungkinkah masih ada hati
sekedar menuang isi
sarat resah berenang
tersangkut letih
fajar tak ubah warna
senyap menerkam
bila kidung menggandeng
layar kapan terbuka
kau
hanya lewat
seperti badai
menghancurkan
reruntuhan senyummu
haruskah membanting asa
cepu, 18 desember 2009
Friday, December 18, 2009
bu
Monday, November 23, 2009
gemuruh tanah merdeka
jangan kepakkan sayap
apalagi memadamkan cahaya
biarkan bingkai pelita berpendar
meskipun temaram
diam jaga fungsi lidah
kita adalah terdepan
kejayaan harus melihat kita
angkat keberanian setinggi matahari
berdiri ditanah sempurna
tanam bangga darah dan nyawa
sujud bagi kejayaan nama
kita pilihan yang terbaik
jaga negeri
bersatu
selangkah surut kebelakang
runtuh pijakan menuju jurang
tanpa bendera
gemuruh jiwa ksatria
selendang berani
kita bukan tanah penakluk
kita bukan tanah yang takluk
hanyalah kebenaran
hanyalah kejayaan
diatas segala
harus tetap tertulis
bangsa merdeka
cepu, 24 november 2009
Friday, November 20, 2009
telusuri damaiMu
karangkitri berjajar
seperti jemari
jalan setapak menyempit
menembus belukar
hembus dersik sentuh punggung
sayup air gerojok atas tebing sisi timur
dimana matahari memberikan pelangi
akar berjuntai tetes embun
didalam gelap
kucoba meraih rembulan
taut meraut lebur damaiMu
tak ada beringas meski melengking satwaMu
kaki ini begitu kecil
untuk melintas bumi meski harus merawang
tidak sepatutnya merenggut
pongah menguasai milikMu
bahkan berteman cemas
ada yang mengikuti pulang
seperti pelasik mencoba hinggap
anugerah meski sebutir gersik
tenangMu tersimpan dalam rongga
terdiam diputik jantung
cepu, 21 november 2009
Thursday, November 19, 2009
ujung keinginan
boleh kubaca tulisanmu
mungkin angin bicara mengada ada
pada sesuatu tidak selayaknya
sebab kita sempat berdiri disana
menggabung hati dan pikiran
menghitung hingga bilangan terakhir
berharap jejak tak terlewat
agar bisa menyisihkan tawa
dan menggulung sakit ujung langkah
meskipun sesaat
boleh kukupas curahanmu
dan membiarkan membaca kejadian
sebab sesungguhnya bekal telah sempurna
tak pernah terhenti mengggali
bahkan bertanya gugusan bintang berekor
memadukan keinginan esok hari
walau kupikir telalu lama
sebab setiap kejadian tak sesuai asa
selalu saja ikat belukar menghitam
hari terasa masih belum berganti
selalu terdengar penuhi fikiran
suara bergema tak senada
buram
suram
kehilangan kekuatan
ujung seberang jembatan masih menunggu
namun kita hanya berbekal diam
dan sebaris tanya mengapa
begitu sulit menembus pencarian
ataukah kita yang tak mengerti
bahwa jalan didepan hanya mimpi
ataukah kita membelakangi kaki langit
dan tak segaris mata angin
cepu, 19 november 2009
Friday, October 23, 2009
anakku 3
ketika sembunyi dalam misteri
terlelap ataukah menunggu
saat isi lingkaran
sambut kehadiran
atas bumi
penuh gelak dan gejolak
kukibarkan engkau
banggaku
mungilmu mengaduk suasana
matahariku
terpetik angin kehidupan
disini
bergaung lengkingmu
menoreh pagi
memberi warna pelangi
jantanmu melibas petang
bangun
sebentar sekilas
baca
warna tarian cakrawala
wajah kehidupan zaman
sungguh
lebur jauh dan berani
mengikis nurani
erosi kepatutan
bahkan menjadi pedoman
mercusuar ritual
robohkan jati diri
benamkan atas tumpukan debu
sarat rona kelabu
mutiaraku
tetapkan gengam
menjaring pijar kebenaran
biarpun kaki berdarah
tonggak
biarkan tetap menghujam
banggaku
seperti menatap langit pagi
cepu, 23 oktober 2009
Saturday, October 10, 2009
untukmu (masihkah hanya bayang)
aku mencoba menulis
dengan kata kata melankolis
sudahkah seperti puisi
atau seperti berita koran pagi
arah harapku
segenap ungkap sederhana
dapat kau mengerti
seperti ombak lautan
bergelombang tak pernah diam
aku mencoba katakan
walau hanya lewat tulisan
masihkah sekedar mimpi
pudar tercerai embun pagi
bila kembali tumbuh didaun hatimu
bersemi pendar kemilau
cerlangi asa tak kuasa tersentuh
waktu demikian jauh
mestikah kita memendam sepi
aku tak henti menuang
lontaran rindu sarat pasrah gelisah
berbaur sesak dada
hanya kata gejolak berdendang
rinduku melambung
menyentuh pokok relung
seandainya kau segera berikan kabar
tahukah engkau
aku tengah meradang
menggambar angin hanya bayangan
terbitkan genggam usir angan angan
kekasih
berikan percikan bintang malam
kutunggu depan jendela petang
berikan nyala
agar gelora tegas melangkah
cepu, 10 oktober 2009
Friday, October 9, 2009
kembang dan tembang hati
sempat kugenggam ronamu
pagi ini
demikian dekat
dan mencoba rebahkan keriuhan detakku
getir menggemuruh
melumat sedikit kesempatan
aku sadari demikian berjarak
melesat menghilang
kubagi pagi
menghampiri waktu bila hadir
berharap kembali dekat
agar kuselami wajahmu
menidurkan bersama rindu tak beringsut
entah dapatkah bertabur
genggam jemari
menggendong hatimu
aku masih tetap menggenggam masa lalu
mengulir pijak perjalanan
tak mungkin luruh
bahkan terbuang
semua sengaja kukibarkan
agar kau semakin mengerti
bahwa kata kataku
adalah prasasti dalam sisa umurku
untuk menjadi matahari
berbaur kembang dan tembang hati
tak bergeming
cepu, 9 oktober 2009
Sunday, August 16, 2009
kuketuk hatimu
nampak bintang di suasanamu
gelak terdengar mandikan cakrawala
langit jernih penuh kata kata
hilang kelam
berlalu iring musim semi
tembang
berdentang gemuruh kembang
tak sisa jelaga telah terbuang
waktu demikian sempurna
segala adalah terasa
masihkah kaki menginjak bumi
kedamaian tercipta
panjat hariku
masih sempat kubungkus matahari
meskipun terkoyak
coba ambil setitik pijar cahaya
memberi ruang
tempat hidup kembali berlari
peduli hari kemarin
terpatahkan
sejengkal warsa jarak terpisah
namun rindu masih terendam
berenang tak menyingkir
apalagi sore ini
getar menyentuh dasar hati
matamu begitu dekat
tak bisa kurengkuh
langkahmu begitu dekat
namun tak juga tersentuh
entah
terasa luka
luka terasa
bila kau tahu tentang kesetiaan
tetap kupegang
entah sampai kapan
terlalu lama duduk sendiri
mestinya bertandang
peduli gelap
melumat ujung kaki
pintu itu
pernah menunggu
jalan itu
kini rapat terkunci
kuketuk hatiku
cepatlah tidur
layar telah usang
berganti cadar mewangi
keinginan
benamkan dalam ujung bumi
dan kuatkan melangkah
kuketuk hatiku
kuketuk hatimu
cepu, 16 agustus 2009
Thursday, August 6, 2009
suratmu sempurna hariku
meski batas hujan sudah selesai
tak juga tertulis makna
kertas masih apa adanya
tak juga tersentuh
jejeran kata yang sembunyi di kepala
entah apa yang mesti kulakukan
surat biru mudamu
telah menenggelamkan akal nurani
melambung tinggi padang permadani
jiwa bergolak tak sanggup memendam gemerlap
nuansa serentak berubah
telah kau kirim ungkapan hati
memendar berbaur tulisan pena kata cinta
berputar tak mengerti
bila terhenti
aku mabuk kepayang
dunia ataukah surga
aku sadari waktu berjalan
menggegam tangan
seperti berlari diatas awan
bermandi matahari
tak kuasa aku menangis
mengaduk emosi dan terlupa diri
manakah yang mesti kulihat
begitu menawan segala kata katamu
kuterpesona inikah cinta
kau sempurnakan hariku
cepu, 06 agustus 2009
Monday, August 3, 2009
tak tersiakan
mana mungkin
kisah lama terhapuskan
perjalanan telah membelenggu
meski terantuk menggilas rencana
tak kan luruh
gugus cerita kehangatan
akrab mengetuk bawa cinta
sembunyi dihati
diam berbaur duka
kehangatan bibirmu
tegas keberadaanmu
masih aku titip diwajah matahari
akrab mendekap
tetap tinggalkan jejak berarti
sentuhan mesramu
jejak kehadiranmu
masih aku tinggal diwajah rembulan
lembut mengusap
getar hantarkan cerlang surgawi
kau
adalah awan dimana puisi kugantungkan
tak henti tercurah
tentang keinginan
seharusnya malam ikut bercerita
sajikan gemuruh rindu memburu
bawa kisah panjang
dimana
kita sempat meniti
cepu, 4 juli 2009
Thursday, July 23, 2009
perjalanan berakhir
kini hanya lewat catatan harian
segala rindu memecah gelisah
lantas kemanakah mimpi
bahkan tak berkunjung
suaramu
telah berlalu
jauh ditikungan waktu
atas nama segenap cinta
telah kuhadapi badai
meski harus tersirat selamat tinggal
namun setidaknya
pada tatapan terakhir
sampaikan sekedar pamit
meskipun terluka
dan menangis
pada jalan dibelah sudut
belum berganti
meski telah beda warna
masih ada mimpi
tentang keinginan
berharap tak terjatuh
tercederai
cepu, 23 juli 2009
Monday, July 13, 2009
sosok manusia 2
kehidupan berdiri
bahkan berlari
merambah sosok
sembunyi topeng
selempang emas
berbusa kalam
buih menghitam ujung lidah
nampak sahaya
bahkan terlalu sederhana
namun hati
rakus sembunyi
lorong pelangi
seperti lukisan
warna berganti
bumi telah dimiliki
topeng munafik
bicara tentang moral
aneh bahkan lucu
sajian sandiwara
kata kata bijaknya
dihias fatwa
sungguh teramat sempurna
telunjuknya menuding
bulu kudukku merinding
tak terasa ingin kencing
semua tahu
ujung lidah adalah benalu
ujung kalbu
melongok
kulitnya yang kelabu
tak sabar direnggut waktu
dunia dibuat main main
maka
lapang berteman angin
seperti seorang sahabat
duduk merdeka
main tepukan tangan
jernih bernyanyi
iringi petang
begitu jujur
hitam bila hitam
putih bila putih
tak ada yang tersembunyi
dunia tak dibuat main main
cepu, 13 juli 2009
Sunday, July 12, 2009
deritaku
datanglah kekasih
biar dapat kurebahkan gelisah
terlalu lama
jarak membentang batas
bahkan angin tak kuasa menyirnakan
tak pernah terhapus
tembang lama
perih kunyanyikan
aku tak berharap
bahwa hatimu telah menguncup
dan kau padamkan
deritaku
berbaur ujung hati
cerita sendu
bila kembali berbunga
arungi waktu
atau masih dapat disegarkan lagi
sekarang seperti tunggu fajar
damai embun pagi
haruskah tangan menggapai hampa
jingga selamanya
cepu, 12 juli 2009
Thursday, June 11, 2009
betapa indahnya dunia
betapa indahnya dunia
bebas nikmati hangat matahari
bernyanyi bintang rembulan
melebur hutan rimba
berselimut embun
ketinggian bukit
pandang puspa pesona
berbisik angin samudera
menari satwa atas padang
betapa indahnya dunia
bebas senyum dan tawa
lepas tercurah hati
tak pandang warna
berbaur satu
lenggak lenggok budaya
kumandang tembang
berpadu dalam senang
semua adalah keluarga
betapa indahnya dunia
tak ada pongah dan rakus
tak ada takut
damai menyisir hidup
saling rindu
ingin bertemu
dan kehilangan
akrab menanam kabar
titip salam
untuk saudara disana
betapa indahnya dunia
bila tak ada hasrat buat bencana
tak ada hasrat melukai
tak ada hasrat mencederai
tak ada hasrat mengingkari
tak ada hasrat putus saudara
betapa indahnya dunia
bila hanya ada hasrat melindungi
selalu ada hasrat menghormati
selalu ada hasrat menjaga
selalu ada hasrat kedamaian
selalu ada hasrat gandengan tangan
cepu, 11 juni 2009
Saturday, June 6, 2009
lewat sini
lewat sini
gelora masih terbuka
dimana singgasana cinta
tetap melambai abadi
lama menanti
sang dewi meniti bagai putri
senda beradu mengumbar asa
tak terbelit ragu
menebar apa adanya
lewat sini
pintu selalu terbuka
peduli waktu kau mengetuk
kesegaran mendekap
bukanlah tersisa
segala telah bersiap
cangkir madu kasmaran
ingin kutuang
sambil bersulang melepas rindu
kibaskan angin benalu
mari berdua singkirkan
lewat sini
tangan masih membawa sepi
lewat sini
melalui waktu layaknya dahulu
lewat sini
jalan itu masih menunggu
lewat sini
kelok malam ingin kembali berlagu
cepu, 6 juni 2009
Tuesday, June 2, 2009
ibu (aku kehilangan waktu)
ibu
tegar dihembus warna pekat
lirih tengadahkan doa
buat kumbang kecilmu
dalam kacaunya waktu
kerap kulihat kau menangis
rebah jeremba kepadaNya
berharap tanganNya mengelus
agar bisa sejenak tertidur pulas
dalam zaman sedemikin garang
ibu
lingkaran masa gelumang gulita
menapak kaki renta sendiri terantuk
bila aku tak terlambat engkau lahirkan
pasti kakiku tidak seperti pucuk dedaunan
pasti tanganku seperti bebatuan alam
niscaya dapat hadirkan mentari
agar mampu hilangkan penatmu
namun
aku kehilangan waktu
ibu
embun zaman lesat mulai menipis
kokoh keringat kaki kumbang
merona gagah
wajah sang rajawali
terbang edar alam raya
mengusir kabut
ibu
terasa perih mengiris anakmu
dibalik kecipak gemerlap
sebab aku telah jauh terlambat
wujudkan keinginan
masa silam
agar mampu hilangkan penatmu
ada doa
ada percaya
bahwa engkau telah tersenyum
dalam ruang damai dikakiNya
cepu, 2 juni 2009
Sunday, May 31, 2009
bagai gerhana bintang rembulan
tulisan masih tertinggal disana
titipkan jejak selamanya
didalam sudut buku harian
mungkin sudah mulai berdebu
bahkan enggan untuk dibaca
hati merasa masih disana
dalam kedamaian ruang mungil
tak ada kabut tebal
susah mempercayai
sekarang gelegar terjadi
pintu sudah terkatup
bahkan anginpun tak mampu mengetuk
bungkam terdiam
tak terlihat senyum
walaupun hanya samar
bagai
gerhana bintang rembulan
kembali geluti ladang puisi
tandus menghempas luka
tak lagi ungkap binar gemintang
seperti dahulu
tulisanku tulisanmu
bagian kontradiksi
membakar sudut cinta
pupus menghitam
disapu gelombang pasang
tak mampu menghentikan
kakimu berlari demikian jauh
hati tak kuasa merengkuh
sebab waktu tak pernah cerita
hentakkan nyenyak
terbangun tinggal bayang kelabu
tak lagi ada disini
cepu, 31 mei 2009
Tuesday, May 26, 2009
kini buku usang kutemukan
sekarang aku semakin mengenalmu
engkau cantik begitu sempurna
namun aku begitu ragu
untuk berani bicara
dengan bahasa sederhana
apakah ini
perasaan sebuah cinta
aku tak mengerti
aku selalu menaruh harapan
membawa rindu tak perduli waktu
aku kini mudah menuang kata
diatas kertas biru muda
terkirim lewat teman
meminta sederhana
katakan kenyataan hati
bahwa aku sangat rindu kamu
maafkan bila masih malu
untuk bicara berhadapan
aku begitu gamang
aku takut semua tak menjadi nyata
sebab goresan resah tak juga terbalas
inikah ujian
inikah penolakan
mendekap ketakutan
keraguan sepanjang waktu
aku selalu ingin lewati jalan itu
sebab aku tahu
engkau setia menunggu
dibalik pagar coklat muda
engkau duduk berteman bunga
ditaman sebelah kolam
beratap rumbia
mestinya aku harus berani
untuk sekedar mengetuk pintu
aku ingin menatap cantik wajahmu
namun mengapa
tak juga kaki meminta berhenti
bahkan kurasa semakin berlari
terasa dentum dada memburu
seperti juga langkah kaki
aku tergelak
aku tertawa
buku harian masa sekolah
usang sudah
kini kutemukan
tertulis galaunya hati
seperti tekukur bermandi embun
tak tahu berbuat apa
hanya mata bicara
kini buku usang
adalah cerita termanis pernah datang
kemana aku harus bertanya
dimana dirimu sekarang
cepu, 26 mei 2009
Saturday, May 16, 2009
hari terindah
pagi
adakah resah membelit
seperti kesendirian disini
pelampiasan meninju angin
hati terkapar
semakin koyak terpapas
pagi
depan hari terindah
tidak seharusnya terdiam
semestinya begitu dekat
seperti kidung dahulu
atau
selalu nikmati masa lalu
tiada koyak terpapas
pagi
membiarkan gerimis berpayung
tak satupun waktu
memendar kesempatan
bila tangan bisa menggendong
dan kembali
kelak
kaki langit berharap
depan hari terindah
ada lelagon burung burung
cepu, 16 mei 2009
Tuesday, April 28, 2009
kasih
kita masih ada dijalanNya
tak bersandar sandiwara
pijar fajar kukuh
semayam
berlatar kejujuran
kita bawa bagian kita
dimana tersimpan kesepakatan
tali masih bertahan
jangan patah lentera
sebab akan terbakar
geripis
cepu, 28 april 2009
Monday, April 27, 2009
titik metamorfosa
angin deru
jagat terjajah
dini hari
gersang menghempas
susunan aksara berselancar
nyata atau bunga tidur
dibalik belukar
burung kedasih menyayat
ajak berkemas
ritmis gerimis
bertandang manis
berteman kaki langit
mengurung bianglala pagi
ataukah nampak kahyangan
berselendang kain dewangga
tak ada jelatang
damai meniti awan berbatu
kakiku terjerat
seperti memberi waktu
jamah pesona senyumMu
jalan
berulang terpalang
tutup memenuh pikiran
getir sekat tabir benang
tertatih tak mampu menjangkau
tetes canting madu
dimana kelebat mata angin
meski secercah
raga ingin berteriak
namun langkah roda hidup
acap tersedak
dimanakah
kutemukan permadani
cepu, 27 april 2009
Tuesday, April 7, 2009
kutulis namamu di ujung daun
diam
merenung sisi ladang
seberang bengawan
telah bercabang dahan
merangkak tumbuh
lunglai batang padi
mengusir resah
masih tersisa hangat dudukmu
masih kusimpan tanpa batas zaman
sering ku kunjung
duduk membatu kadang waktu
meski bentang langit
kusadari
tak lagi seperti gambar kemarin
masih sisa kelok sepi
membawa perih
kuncup cerita bersama
telah meredup
hembus bergemuruh
lumat hati bimbang
benamkan angan
tak sempat bertahan
serentak terjatuh
semakin terjatuh
kutulis namamu di ujung daun
entah
aku merasa tenang
masih lekat
gerai rambutmu
kuusap lembut
berharap mengayunmu
namun cemeti gelegar menggerus
terpisahkan
menutup sejuta keinginan
padamkan matahari
jelaga tangis
patahkan rencana
jalan setapak
tak bernama
mengingatkan sebuah nama
gontai tunggu kehadiran
menyapa senyap
seperti ada menemani
mendung tak bergerak
melumatku
entah sampai kapan
kutulis namamu di ujung daun
entah
aku merasa tenang
cepu, april 2009
Sunday, March 29, 2009
perjalanan ironi
merpati meliuk terbang
atas cemara
tarian sayap
singgah ujung lembah
menghela nafas diantara daun
menukik kaki gunung
menggapai dingin mata telaga
begitu mudah langit tergapai
semua sudut nampak ramah
terasa lahir kembali
sekian waktu
terkekang jerat mengikat
mencari angin dibenua jauh
menembus jarak
hirup musim terasa berbeda
membawa cinta tinggal segenggam
luka sebab hilang sudah cahaya
tergerus wajah tinggal bayang bayang
mungkinkah sudah termaafkan
tangan sekuat bertahan
nampak rapuh dibalik tegar
semakin nyata
mencoba menghibur diri
memikirkan galau
terasa tak pernah pupus
semakin digendong
gayut geliat mendera
maka
ketika sempat terbuka
ketika lepas merdeka
halaman begitu sempurna
lupakan belenggu
sebab
tak pernah habis sampai diujung
tak pernah surut dari mata kaki
mengisi senyap udara
curahan bait puisi ulur malam
merebah mata bayang kekasih
dunia meratap
berwajah parau
cuaca telah berubah
tinggal kisah bersayap
tangan tak kuat berlari
nampak getar di temaram pagi
sembunyi dibalik halimun
tirukan nyanyi burung burung
berharap selalu disimpan
cepu, 29 maret 2009 dini hari
negeri terlupa siap terbang
masih adakah sukarela
bila satu kata berharap tepukan
mengibarkan bendera
seperti memecah bumi
masih adakah sederhana
bila masih menggaungkan angkuh
merasa lebih mulia
merasa seperti pahlawan
dapatkah biarkan perubahan
ikhlas menempati diri
tidak lagi menyembunyikan kebenaran
tidak lagi membagi peran
diatas permadani mutiara
dapatkah merangkul perbedaan
tanpa nuansa setengah hati
tak lagi mengelilingi teka teki
menafsirkan catur menebak arah
turuti perjalanan naluri
negeri menangis
cakrawala hilang kesabaran
entah mengapa
tak juga tersadar
tak tahu berapa lama
terlupa siap terbang
menghapus pekatnya mendung
badai gelombang
membakar
tak juga mengerti
cepu, 29 maret 2009
Tuesday, March 24, 2009
hatiku tak pernah berhenti
kita menuju jembatan yang sama
berdua menyeberang
dimana aku percaya
memastikan pintu hati terkunci
patahkan segenap ragu
saling memilih
selalu isi bicara
jangan pernah berakhir
hatiku tak pernah berhenti
dan tak lalai menjaga
apapun kulakukan
merawat keteguhan hati
sempurnakan ikat kesetiaan
mimpi rengkuh bintang
lama menyentuh waktu
rindu mencium indah matamu
pikiran menunggu
tangkap sebentuk kehadiran
mengapa tak juga mengerti
atau semua telah berubah
mengapa padam segalanya
kau tak pernah tahu
tersisa gemetar
bila sebut namamu
cepu, 24 maret 2009
Sunday, March 22, 2009
apakah hidup harus selalu
apakah hidup harus selalu mengikuti angin
meski diakui
tidak sejalan tapak kaki
kadang semakin tidak bisa dimengerti
akan sebuah pilihan
gagah robohkan tonggak
sebentuk keakuan
seperti membuka terowongan gelap
dan harus lebur
mendekap mimpi
bukan miliknya
apakah hidup harus selalu menoreh kanvas
diatas lukisan
tak segaris jari tangan
adakah pernah tahu
tak mampu seirama goresan
langkah sudah dekat titik akhir
kembali seperti perjalanan awal
entah mengapa
mengabaikan langit sendiri
abaikan matahari sendiri
padamkan rangkaian sempurna
adalah miliknya
jika hanya punya sehari
mengapa berharap seratus bulan
meskipun hanya sedetik
waktu telah mengurat bahasa kaki
begitu nyata bukan legenda
tak selayaknya
menukar dengan angin
seperti menghanguskan
mimpi tidur lelap dini hari
cepu, 22 maret 2009
Thursday, March 19, 2009
ketika sesak menekan
mengapa ada kebencian
dan tak terbuang
sebab selalu diajak berenang
dilautan hati yang dendam
tanpa upaya melupakan
seandainya ingat
waktu tak akan kembali
sebab masa lalu mempunyai masa sendiri
dan tak bisa merapat
untuk masa berikut
coba berfikir jadi lebih baik
agar kebencian tak terjaga
kebencian tak mampu diobati
bahkan akan selalu berjejal
sebab memang terasa gatal
sehingga mudah membakar
dan tak mungkin terdiam
kebencian akan mencoba mengoyak
dan selalu berjalan mundur
kearah mana
kegetiran itu pernah terjadi
seandainya
ikhlas membaca diri
niscaya terlihat
masihkah merasa benar
kebencian adalah keruh
menetap abadi
seperti lidah berakar benalu
cerdik mengubah diri
gambaran fatamorgana
coba taruh kenangan kelam
biarkan bermain dirongga mata
dan rasakan
adakah geliat sesak menekan
ternyata dendam masih tersimpan
cepu, 19 maret 2009, dini hari
Wednesday, March 18, 2009
balada asa jauh seorang lelaki
istriku
jangan beri tirai
sebab itu perlu waktu
sebaiknya tetap kita biarkan
cahaya temaram
menyelam menembus dasar hening
duduklah tetap disini
berpegang padaku
mari bersama berfikir
semoga esok telah berganti lagu
mewarnai banyak yang mesti kita lakukan
walau hidup seperti bukan milik kita
istriku
seharusnya jendela sudah terkunci
tinggalkan penat malam ini
seperti mereka yang bermandi intan
mendekap lelap
menikmati untai mimpi
sedangkan kita akrab merunut kelam
terdiam disudut bumi
mengabaikan rasa luka
namun hidup mesti terus terjaga
seperti matahari terbiasa membakar
kadang kita coba menghibur diri
bahwa semua memang garisNya
biarkan sendiri
untuk kuat bertahan
istriku
semoga hati tidak mendingin
ketika karang kegagalan
selalu berulang
kata teduhmu
selalu jernih mengingatkan
bahwa bumi adalah lembah untuk mencari makna
bukan untuk sekedar mencuri nurani
sebab nyanyian embun pagi
tak terdengar nyaring bila telah dikotori
cepu, 18 maret 2009, dini hari
jadikan sahabat
jadikan aku sahabat
seperti tarian hujan bermain pelangi
meliuk merenda dalam kibar cahaya
kucurkan teduh mewarna
padamkan rantai kelabu
menggandeng matahari
jadikan aku sahabat
seperti buih ombak mengusap sudut pasir
dalam dingin sentuh hangat terulur
semaikan derap seluruh
tegas mengguntur
tertata dalam alur berirama
kehidupan adalah layang layang
lepas merebah beriring mata angin
tak berdaya di arah mana terdiam
tertulis bertaut garis tangan cakrawala
mendekap dalam pasrah
tajam memuat garisNya
kematangan adalah bayang bayang
tak henti berganti
mengiris panjang pijak terantuk belukar
sebab tak semudah tengadah air mata
berharap kemuliaan dalam bingkai kharisma
memanggil makna yang sembunyi
jadikan aku sahabat
seperti embun malam hadir atas daun
dalam senyap memayung lelap
selimuti nurani
menempati putih kuncup kalbu
tiada kemunafikan
maka
izinkan aku
jadikan aku sahabat
sebagai manusia bijak
seperti dirimu
cepu, 18 maret 2009
Tuesday, March 10, 2009
pesta demokrasi
dalam bilik
ada tangan renta menggenggam
haruskah bertanya kemana
apa yang mesti dilakukan
dalam kebingungan dia terdiam
gemuruh pesta akbar
penentu gemintang negeri
terasa pusing dalam ruang terbatas
lembar masih dipegangan
tak tahu harus berbuat apa
didepan tak tersentuh
ada ketakutan bila salah
patahlah suara tak berbekas
masih suci tak tercoret
dan masih terlipat
semua masih apa adanya
kehadiran disini seperti malapetaka
semakin terasa getir menatap jejeran tenda
terpaksa ataukah dipaksa
semua seperti kepatutan
setapak langkah
setapak resah
inilah pesta
didalam hati mengaduk aduk tak beraturan
bagaimana
bagaimana
benak telah kehilangan jawab
gaung pesta berpendar bergema
jati diri mesti digunakan
sebab fatwa kadang semudah mengumbar
semakin gontai pikiran mengurai kalimat
baginya teramat rumit untuk dicerna
namun dia mengerti
kehadiran adalah segala
dalam melayari titik tujuan
bagi kebesaran tanah kelahiran
pesta itu
pesta akbar demokrasi
ada sesuatu yang gamang
ada banyak tertanggal
sebab tak menyaput kedalaman khalayak
terputus pola arah sampai ke akar rumput
tak terjamah dan tersentuh
banyak hati
saling merangkul kebingungan
saling bertanya jawab sendiri
sebab tak ada suluh sebagai pedoman
pada akhirnya
bagaimana kita menilai hasil
bagaimana kita mengunduh hasil
pesta ini
semestinya bukan menjadi beban
diatas himpitan
menghadapi kehidupan
sebab tidak semua mengerti
sebab kemampuan beda arti
cepu, 10 maret 2009
Thursday, March 5, 2009
batas itu
semua tak mampu dihentikan
meski guruh melumat dan meluluhkan
gugusan perasaan adalah bongkahan bukit berjejal
tak bergaung namun kasat
menghembus memayung cakrawala
tak mengenal batas dan dinding tebal
seperti juga tentang perasaan kita
tersembunyi dalam kelokan waktu
dikedalaman hati
bias berpendar terdiam dan bermain disudut mata
dimana hanya kita yang mengerti
sering kenangan kucoba putar sendiri
dimana kurasakan suasana waktu itu
nyanyian perjalanan disudut malam
begitu nyaman ternikmati
dimana bebas tertebar untaian rindu terkatup satu
aku tak pernah mengerti
bahwa semua tak mampu terhapuskan
mendarah dalam geliat menggunung dalam pokok jantung
menyentuh lembut bingkai tulus aroma tembang
tajam beriring membuka dan berbaur diangan mulia
dimana hanya kita yang mengerti
batas itu masih berdinding
tak juga bergeming
batas itu masih tegak menjulang
tak mampu diruntuhkan
cepu, 5 maret 2009
Wednesday, March 4, 2009
walau sesaat (rindu buat C)
bersama bintang
dalam resah meremas
setiap kesempatan
sudahkah kau baca
gelisah hati
sendiriku mengupas sepi
akankah rasa
terbentuk kehadiran nyata
walau sesaat kau menari
mampu diam sembunyi dibalik mata
semayam abadi
tak mampu juga terusir
mungkin aku tengah kasmaran
hingga rasa seperti saat ini
selalu ingin bertemu
meski kusadari
tak semudah angan angan
mungkin aku tengah tergoda
sebab kau telah jadi sesuatu
walau sesaat kau hadir
adalah misteri
dan aku tak menemukan jawab
cepu, 4 maret 2009
Monday, March 2, 2009
dimana
entah dimana kau sekarang
di simpang empat
dibatas trotoar
kau terbiasa bernyanyi
mulutmu yang mungil
bibirmu yang indah
serak menembus lengking deru siang
ataukah semburat kau sembunyi
kemana lagi kau sekarang
ataukah dirimu disana
gemulai mengayun lemah
seirama tepukan tangan
beradu lirih suaramu
tatapan menembus hati
uluran tangan mengupas bumi
adalah matahari
inilah hidupmu
entah dimana
aku telah kehilangan
diantara roda di jantung metropolitan
nasib kita tak beda
aku merindukan dirimu
ingin kuutarakan sebuah rasa
bahwa aku mencintaimu
bahwa aku kini baru merasa
kau mematahkan hati
cepu, 3 Pebruari 2009
sepi rindu malam
membiarkan pikiran mengembara
kearah mana pasti aku tahu
segala gampang terbuka
memeluk manis wajahmu
isi gelisahku
sepi rindu malam
petikan sunyi merambah jendelamu
kau dengarkah suaraku
memanggil
ataukah kau sudah tertidur
ijinkan aku mengayunmu
ajaklah dalam mimpi berbinar
bermain pelangi dan mata air
biarkan kisah kusut disudut
sejenak berselimut damai
hijaukan batas jarak
dalam gelak riang
indahnya bulan tak diam berlagu
kita adalah anak manusia
sandang warna cerita duri dan badai
dinding tak juga runtuh
agar kita segera lewati
untuk tanamkan isi hati
dan suburkan
surga di padang kehangatan
cepu, 3 Pebruari 2009
Tuesday, February 17, 2009
buka itu buku kita
bolehlah buku harian sedemikian usang
kuharapkan yang sempat kutulis menjadi kekal
dimana sebaris ungkap diri
sengaja kutinggalkan disana
kutitip
dan engkau simpan
diurat darah sampai senja mengunci
walau kidung tak lagi bergaung
kelabu nuansa tatanan orkestra sendu
menjerat dalam jemari
mengiris merobek menyirnakan
dan kita simpan
diurat nadi sampai gelap mengunci
jalan disana
suasana itu
haru biru
luka dimana
adalah lembaran lapang
semua tertulis
di panjang sisi waktu
buka itu buku kita
buku itu buka kita
cepu, 17 pebruari 2009
Monday, February 16, 2009
gugusan rindu
dalam pekat malam
angin beku
bergantian
ada cerita tertebar
tak henti saling berkasih
kehangatanmu kurasakan
segala berharap terlabuhkan
perasaan ini jadi satu
dalam kering hari
dibatas perjalanan
sebuah pedesaan
sengaja kita selami
memanjakan suasana
di gelak dingin air telaga
kita duduk begitu dekat
hembusan nafas
melengkapi alam tersenyum
inikah jatuh cinta
bersama melintas sepanjang rindu
membawa genggam biru
berkhayal berirama
melantunkan tempo gugusan rencana
diderai hujan sore
luruh berpadu
bersilang indah meremas rasa
terdiam kubangga sebuah cinta
menari dalam irama gemulai
bersatu kita
menembang nyanyian surga
diatas sepasang burung
duduk beradu
berarak mega dikaki bukit
terdiam ku saat kau berucap
lepaslah burung terbang
terjatuh kita
perumpamaan itu ternyata nyata
cepu, 16 pebruari 2009
Friday, February 13, 2009
bukan lagi matahari
asap masih tersisa dan menyiksa
diam dalam embun melayang dingin pagi
gelap beriring deru
mengarung jalan
mematahkan eloknya matahari
waktu mulai memburu
bersama kita segera berfikir
melepas angan yang gamang
tak seharusnya kita kubur asa
dimana belum sempat tersimpan
kita seharusnya gigih menawar
sebab jalan tak selalu indah
asap masih tersisa dan menyiksa
letih terawang jarak dimana dirimu ada
luka ternyata tak mengenal batas dan terlupa
engkau adalah senja malam
terdiam dalam hati cidera
terpaksa langkah tak bertongkat
dirimu bukan lagi matahari
pekanbaru, 13 pebruari 2009
Saturday, January 24, 2009
selamat ulang tahun
senja menutup
gerusan angin menghentak malam
terobos langit memaku burung terbang
bergelombang tetes cinta
tangismu membahana
membaur nafas kelegaaan
engkau hadir
membawa cerlang merona butiran madu
selamat ulang tahun
pendampingku
kusentuh hatimu
beriring doa dalam relung kalbu
asa melambung lingkar keselamatan
bergandeng keluhuran
selamat ulang tahun
semoga panjang usia
dalam ikatan terdekap
menembangkan cantik mawar
berbalut dingin mata air
selamat ulang tahun
istriku
kucium pipimu
memandang dalam sisi kulit menua
kembali jatah kita berkurang satu
melayari duniaNya
mari duduk berdoa
berharap warsa berikut
kita masih disiram kesempatan
berbaur hangat mata hari
cepu, 24 januari 2009
Monday, January 19, 2009
maafkan aku
maafkan aku
ketika harus hadirkan badai dihatimu
semestinya gugusan pelangi beraroma damai
melengkap jarak
dimana kita terbiasa melintas
maafkan aku
berlaku tak sesuai mimpi
saat seharusnya hadirkan nyanyian bunga ditangan
mengapa sodorkan
sekeranjang akar benalu
maafkan aku
serentak berubah sikap
saat seharusnya ketegasan ingin engkau dekap
tak sepatutnya
aku meninggalkan bayang hitam
maafkan aku
masih membawa rindu
saat seharusnya terlepas seiring kenyataan
tak sepatutnya
aku berikrar menggapai hatimu
maafkan aku
tak berupaya segera berlalu
padamkan kumpulan kenangan disana
tak seharusnya
menggambar hatimu dikedalaman hati
cepu, 19 januari 2009
Monday, January 12, 2009
teratai prima ( dibumi majene)
memecah jejeran gelombang
berselendang ceria
berpagut rindu dan tembang
tak ada resah
tak ada kekhawatiran
bahwa nuansa
serentak lesat berganti
tinggi terpaan gelegar pasang
mengusik waktu
gemeretak dinding kayu
haruskah selesai
berpegang semampunya
gemuruh buih menyapu ruang
camar mengiris sepi sore menangis
saling menggapai
tak juga leluasa
sekedar kaki melangkah
perlahan tak ada lagi untuk berpijak
luruh menuju gelap
lagi
kembali
duka luka negeri
teratai prima kapal renta
adalah prasasti
jejeran kisah bencana
selalu berganti mengisi
tak henti
dan berakhir
cepu, 12 januari 2009
palestina
darah basah menggunung dikaki gunung
memerah kaktus
diantara gemuruh dentum
sembunyi asap langit bermesiu
berterbangan nama
menangis kering siang dan malam
langit berpendar
pelangi malam dibumi palestina
menggumankan nada nada kematian
terenggut serdadu bengis tanah israel
anak memanggil bunda bersamaan
bunda teriak anak beriringan
dalam rebah memeluk kakiNya
bersampan sayap malaikat
getir berdiri di tanah sendiri
menghadang letus dinding peluru
ketenangan haruskah dibeli
masihkah sembunyi
terbang kibar tentang kemerdekaan
dapatkah teraih
segala kapan berarti
tundukku kepadamu
sedihku pada ketakutanmu
tangisku dijasadmu
kuyakin kau telah digendongNya
cepu, 12 januari 2009
Saturday, January 10, 2009
keadaan
adalah embun
rasa cinta datang sejak dini
bahkan ketika engkau masih tertidur
kuketuk iringi musim
mendekap di bentang rindu
adalah ngarai
rasa kasih tumbuh di jarak berada
bahkan saat engkau terbang menjauh
kusentuh sembarang waktu
mendekap di senja malam
kau berbeda
kau sungguh berbeda
tak berwarna
bawa kepolosan
kau berlari
kau semakin berlari
tak terhenti
bawa gelisahku
adalah senyap
rasa rindu himpit ruang sendiri
menari dalam rongga sesak terdiam
kugapai bayang yang sembunyi angin
suara telah lelah menjerit parau
cepu, 10 januari 2009
Friday, January 2, 2009
rimba rimba purba
menginjak rimbun dedaunan
ditengah rimba yang masih tersisa
belum punah
aroma purba
terasa begitu dingin
tetes tetes air diakar bumi
matahari sipit terlihat
wajah bulan tebar sekitar
bintang telah bernyanyi
laksana simponi berbaur malam
tanganmu menulis puisi
sudah jauhkah yang kita lakukan
ungkap kebesaranNya
seharusnya biarkan apa adanya
gelap rimba seperti ini
tak semestinya
harus terkoyak dan tersakiti
rimba telah kurus kering
sebab lengannya telah menjadi perumahan
sebab kakinya telah menjadi pertokoan
sebab kepalanya telah menjadi pabrik industri
tinggal tubuhnya
yang mulai menguncup
yang beranjak menuju kepunahan
ada tangisan
ada nyanyian
berbaur diiringi denting gerimis dan kabut
sentuh timbunan puisi
dalam usapan angin
dimanakah engkau berlalu
tinggalkan sendiriku
didekap dingin pagi
diatas bebatuan
terdengar engkau bersenandung
cepu, 2 januari 2009
