ketika sembunyi dalam misteri
terlelap ataukah menunggu
saat isi lingkaran
sambut kehadiran
atas bumi
penuh gelak dan gejolak
kukibarkan engkau
banggaku
mungilmu mengaduk suasana
matahariku
terpetik angin kehidupan
disini
bergaung lengkingmu
menoreh pagi
memberi warna pelangi
jantanmu melibas petang
bangun
sebentar sekilas
baca
warna tarian cakrawala
wajah kehidupan zaman
sungguh
lebur jauh dan berani
mengikis nurani
erosi kepatutan
bahkan menjadi pedoman
mercusuar ritual
robohkan jati diri
benamkan atas tumpukan debu
sarat rona kelabu
mutiaraku
tetapkan gengam
menjaring pijar kebenaran
biarpun kaki berdarah
tonggak
biarkan tetap menghujam
banggaku
seperti menatap langit pagi
cepu, 23 oktober 2009
Friday, October 23, 2009
anakku 3
Saturday, October 10, 2009
untukmu (masihkah hanya bayang)
aku mencoba menulis
dengan kata kata melankolis
sudahkah seperti puisi
atau seperti berita koran pagi
arah harapku
segenap ungkap sederhana
dapat kau mengerti
seperti ombak lautan
bergelombang tak pernah diam
aku mencoba katakan
walau hanya lewat tulisan
masihkah sekedar mimpi
pudar tercerai embun pagi
bila kembali tumbuh didaun hatimu
bersemi pendar kemilau
cerlangi asa tak kuasa tersentuh
waktu demikian jauh
mestikah kita memendam sepi
aku tak henti menuang
lontaran rindu sarat pasrah gelisah
berbaur sesak dada
hanya kata gejolak berdendang
rinduku melambung
menyentuh pokok relung
seandainya kau segera berikan kabar
tahukah engkau
aku tengah meradang
menggambar angin hanya bayangan
terbitkan genggam usir angan angan
kekasih
berikan percikan bintang malam
kutunggu depan jendela petang
berikan nyala
agar gelora tegas melangkah
cepu, 10 oktober 2009
Friday, October 9, 2009
kembang dan tembang hati
sempat kugenggam ronamu
pagi ini
demikian dekat
dan mencoba rebahkan keriuhan detakku
getir menggemuruh
melumat sedikit kesempatan
aku sadari demikian berjarak
melesat menghilang
kubagi pagi
menghampiri waktu bila hadir
berharap kembali dekat
agar kuselami wajahmu
menidurkan bersama rindu tak beringsut
entah dapatkah bertabur
genggam jemari
menggendong hatimu
aku masih tetap menggenggam masa lalu
mengulir pijak perjalanan
tak mungkin luruh
bahkan terbuang
semua sengaja kukibarkan
agar kau semakin mengerti
bahwa kata kataku
adalah prasasti dalam sisa umurku
untuk menjadi matahari
berbaur kembang dan tembang hati
tak bergeming
cepu, 9 oktober 2009
