Friday, August 20, 2010

dirimu

kau tak berhenti menyakiti
jauh membawa kalbu berjarak
membuat aku semakin pintar membandingkan
tak perlu kaki melangkah
dirimu telah rebah
hanya kala indah dulu

kau benamkan sebaris harapan
lupakan keinginan bersama
kau kembali mendekap belukar kesemuan
pedulikan ketegasan hati
lebur sapa figur kesombongan
dan
kini kembali dapat

kau
adalah jelaga malam dimana resahku tak diam
menutup sisi dinding gemerlap
membunuh putik
harum rembulan
dianggap nyanyian

kau
adalah udara menggantung ujung jantung
luruh menembus pori kematian
nyaman mengulur ditikung waktu
menunggu lengah
kau menikam

cepu, 20 agustus 2010

puisi seutuhnya »»