garis jawab
membenar tanya
meski waktu sesaat
namun semua adalah jembatan
menegak hari
menuju cahaya gemilang
untuk masa nanti
diantara sapaan kemarau
kota kenangan
hati resah
mengikuti larimu
tak mungkin sentuh
terbentang pagar
hanya mampu panjatkan doa
semoga sukses
semoga berhasil
menapak jenjang yang bertingkat
ku sadari telah terhempas
luruh asa
kini
hanya mampu bicara pada gambarmu
tak henti aku cium
temani ruang keseharian
ada yang luruh
ada yang jatuh
semakin aku merinduimu
seandainya
selamat
sukses buatmu
melenggang bentang padang
temani bintang
menuju sempurna
sebab
kehangatan telah mudah didapat
tak seperti dahulu
dan
harapku
ikhlasmu
atas ijinmu
aku akan sebut namamu
hingga menuju titik terakhir
pada takdir yang pasti
kuharap bisikmu
dihari kering
cepu, 24 juni 2011
Friday, June 24, 2011
serangkum doa sukses untukmu
Saturday, May 14, 2011
mendekap kerinduan
bayangmu
mengikatku tak peduli kering waktu
entah
seharusnya aku melayang
dan
menjumpaimu ujung benua
dimana
keringkan air mata
basuh tangis hati
memeluk kebeningan
aku rindu kamu
senyummu
berteman kebisingan
berpagar gedung keras
dibalik debu
aku yang tertinggal
berkhayal mendekap
tak penat asa terbentuk
mengecup senyum
nikmati masa lalu
aku rindu kamu
hari ini
harum waktu melayari masa silam
tentang kehadiran
tentang tangis mungil
menerobos jarak
tak terukur
coba kugapai
setidaknya pernah dekat
aku berdoa untukmu
aku rindu kamu
aku hanya mampu memandang
diam ujung batas bengawan
tempat duduk
masih seperti dulu
sepi
jauh
kecipak perahu
menyapa dasar pasir
semoga kau rasakan
berbaur hari ini
ceria cemerlang
aku rindu kamu
cepu, 14 mei 2011
Wednesday, February 9, 2011
selamat jalan
lelaki itu
matanya berkaca
dicoba menggulung sesak
akhirnya garis menjadi nyata
semua luluh lantak
bentangan layar tertutup
pasti
dia kehilangan hati yang dicintai
dia kehilangan hati yang dikangeni
lelaki itu
tak lagi bisa berharap
resahnya menggunung
kemarin dia masih mampu
menyentuh senyum
menyapa wajah
ikhlas
meskipun dari jauh
sekarang segalanya
akan segera selesai
benua baru
tak mungkin mampu disentuhnya
baginya tak ada bebatuan
tempat berpijak
menuju kesana
matanya berkaca
lelaki itu
memetik kabar seperti hallilintar
menerkam dan mematikan
sekuatnya mencoba tegar
coba mengurai sendiri
ternyata
waktu sudah sampai penghujung
lelaki itu
menggali yang tertulis
kenangan perjalanan tertinggal
saat masa masa termanis
berulang dia menerawang
sering dia menangis
semua seperti angin
hilang tercerabut seperti hening
kehilangan mata air
lelaki itu rindu
dan
selalu rindu
tak peduli seperti menulis atas air
jejak yang sia sia
setidaknya
dia ingin sampaikan
bahwa tetap setia
seperti pernah diungkapkan
pada sudut perjalanan waktu
lelaki itu
matanya berkaca
selamat jalan
cepu, pebruari 2011
