merpati meliuk terbang
atas cemara
tarian sayap
singgah ujung lembah
menghela nafas diantara daun
menukik kaki gunung
menggapai dingin mata telaga
begitu mudah langit tergapai
semua sudut nampak ramah
terasa lahir kembali
sekian waktu
terkekang jerat mengikat
mencari angin dibenua jauh
menembus jarak
hirup musim terasa berbeda
membawa cinta tinggal segenggam
luka sebab hilang sudah cahaya
tergerus wajah tinggal bayang bayang
mungkinkah sudah termaafkan
tangan sekuat bertahan
nampak rapuh dibalik tegar
semakin nyata
mencoba menghibur diri
memikirkan galau
terasa tak pernah pupus
semakin digendong
gayut geliat mendera
maka
ketika sempat terbuka
ketika lepas merdeka
halaman begitu sempurna
lupakan belenggu
sebab
tak pernah habis sampai diujung
tak pernah surut dari mata kaki
mengisi senyap udara
curahan bait puisi ulur malam
merebah mata bayang kekasih
dunia meratap
berwajah parau
cuaca telah berubah
tinggal kisah bersayap
tangan tak kuat berlari
nampak getar di temaram pagi
sembunyi dibalik halimun
tirukan nyanyi burung burung
berharap selalu disimpan
cepu, 29 maret 2009 dini hari
Sunday, March 29, 2009
perjalanan ironi
negeri terlupa siap terbang
masih adakah sukarela
bila satu kata berharap tepukan
mengibarkan bendera
seperti memecah bumi
masih adakah sederhana
bila masih menggaungkan angkuh
merasa lebih mulia
merasa seperti pahlawan
dapatkah biarkan perubahan
ikhlas menempati diri
tidak lagi menyembunyikan kebenaran
tidak lagi membagi peran
diatas permadani mutiara
dapatkah merangkul perbedaan
tanpa nuansa setengah hati
tak lagi mengelilingi teka teki
menafsirkan catur menebak arah
turuti perjalanan naluri
negeri menangis
cakrawala hilang kesabaran
entah mengapa
tak juga tersadar
tak tahu berapa lama
terlupa siap terbang
menghapus pekatnya mendung
badai gelombang
membakar
tak juga mengerti
cepu, 29 maret 2009
Tuesday, March 24, 2009
hatiku tak pernah berhenti
kita menuju jembatan yang sama
berdua menyeberang
dimana aku percaya
memastikan pintu hati terkunci
patahkan segenap ragu
saling memilih
selalu isi bicara
jangan pernah berakhir
hatiku tak pernah berhenti
dan tak lalai menjaga
apapun kulakukan
merawat keteguhan hati
sempurnakan ikat kesetiaan
mimpi rengkuh bintang
lama menyentuh waktu
rindu mencium indah matamu
pikiran menunggu
tangkap sebentuk kehadiran
mengapa tak juga mengerti
atau semua telah berubah
mengapa padam segalanya
kau tak pernah tahu
tersisa gemetar
bila sebut namamu
cepu, 24 maret 2009
Sunday, March 22, 2009
apakah hidup harus selalu
apakah hidup harus selalu mengikuti angin
meski diakui
tidak sejalan tapak kaki
kadang semakin tidak bisa dimengerti
akan sebuah pilihan
gagah robohkan tonggak
sebentuk keakuan
seperti membuka terowongan gelap
dan harus lebur
mendekap mimpi
bukan miliknya
apakah hidup harus selalu menoreh kanvas
diatas lukisan
tak segaris jari tangan
adakah pernah tahu
tak mampu seirama goresan
langkah sudah dekat titik akhir
kembali seperti perjalanan awal
entah mengapa
mengabaikan langit sendiri
abaikan matahari sendiri
padamkan rangkaian sempurna
adalah miliknya
jika hanya punya sehari
mengapa berharap seratus bulan
meskipun hanya sedetik
waktu telah mengurat bahasa kaki
begitu nyata bukan legenda
tak selayaknya
menukar dengan angin
seperti menghanguskan
mimpi tidur lelap dini hari
cepu, 22 maret 2009
Thursday, March 19, 2009
ketika sesak menekan
mengapa ada kebencian
dan tak terbuang
sebab selalu diajak berenang
dilautan hati yang dendam
tanpa upaya melupakan
seandainya ingat
waktu tak akan kembali
sebab masa lalu mempunyai masa sendiri
dan tak bisa merapat
untuk masa berikut
coba berfikir jadi lebih baik
agar kebencian tak terjaga
kebencian tak mampu diobati
bahkan akan selalu berjejal
sebab memang terasa gatal
sehingga mudah membakar
dan tak mungkin terdiam
kebencian akan mencoba mengoyak
dan selalu berjalan mundur
kearah mana
kegetiran itu pernah terjadi
seandainya
ikhlas membaca diri
niscaya terlihat
masihkah merasa benar
kebencian adalah keruh
menetap abadi
seperti lidah berakar benalu
cerdik mengubah diri
gambaran fatamorgana
coba taruh kenangan kelam
biarkan bermain dirongga mata
dan rasakan
adakah geliat sesak menekan
ternyata dendam masih tersimpan
cepu, 19 maret 2009, dini hari
Wednesday, March 18, 2009
balada asa jauh seorang lelaki
istriku
jangan beri tirai
sebab itu perlu waktu
sebaiknya tetap kita biarkan
cahaya temaram
menyelam menembus dasar hening
duduklah tetap disini
berpegang padaku
mari bersama berfikir
semoga esok telah berganti lagu
mewarnai banyak yang mesti kita lakukan
walau hidup seperti bukan milik kita
istriku
seharusnya jendela sudah terkunci
tinggalkan penat malam ini
seperti mereka yang bermandi intan
mendekap lelap
menikmati untai mimpi
sedangkan kita akrab merunut kelam
terdiam disudut bumi
mengabaikan rasa luka
namun hidup mesti terus terjaga
seperti matahari terbiasa membakar
kadang kita coba menghibur diri
bahwa semua memang garisNya
biarkan sendiri
untuk kuat bertahan
istriku
semoga hati tidak mendingin
ketika karang kegagalan
selalu berulang
kata teduhmu
selalu jernih mengingatkan
bahwa bumi adalah lembah untuk mencari makna
bukan untuk sekedar mencuri nurani
sebab nyanyian embun pagi
tak terdengar nyaring bila telah dikotori
cepu, 18 maret 2009, dini hari
jadikan sahabat
jadikan aku sahabat
seperti tarian hujan bermain pelangi
meliuk merenda dalam kibar cahaya
kucurkan teduh mewarna
padamkan rantai kelabu
menggandeng matahari
jadikan aku sahabat
seperti buih ombak mengusap sudut pasir
dalam dingin sentuh hangat terulur
semaikan derap seluruh
tegas mengguntur
tertata dalam alur berirama
kehidupan adalah layang layang
lepas merebah beriring mata angin
tak berdaya di arah mana terdiam
tertulis bertaut garis tangan cakrawala
mendekap dalam pasrah
tajam memuat garisNya
kematangan adalah bayang bayang
tak henti berganti
mengiris panjang pijak terantuk belukar
sebab tak semudah tengadah air mata
berharap kemuliaan dalam bingkai kharisma
memanggil makna yang sembunyi
jadikan aku sahabat
seperti embun malam hadir atas daun
dalam senyap memayung lelap
selimuti nurani
menempati putih kuncup kalbu
tiada kemunafikan
maka
izinkan aku
jadikan aku sahabat
sebagai manusia bijak
seperti dirimu
cepu, 18 maret 2009
Tuesday, March 10, 2009
pesta demokrasi
dalam bilik
ada tangan renta menggenggam
haruskah bertanya kemana
apa yang mesti dilakukan
dalam kebingungan dia terdiam
gemuruh pesta akbar
penentu gemintang negeri
terasa pusing dalam ruang terbatas
lembar masih dipegangan
tak tahu harus berbuat apa
didepan tak tersentuh
ada ketakutan bila salah
patahlah suara tak berbekas
masih suci tak tercoret
dan masih terlipat
semua masih apa adanya
kehadiran disini seperti malapetaka
semakin terasa getir menatap jejeran tenda
terpaksa ataukah dipaksa
semua seperti kepatutan
setapak langkah
setapak resah
inilah pesta
didalam hati mengaduk aduk tak beraturan
bagaimana
bagaimana
benak telah kehilangan jawab
gaung pesta berpendar bergema
jati diri mesti digunakan
sebab fatwa kadang semudah mengumbar
semakin gontai pikiran mengurai kalimat
baginya teramat rumit untuk dicerna
namun dia mengerti
kehadiran adalah segala
dalam melayari titik tujuan
bagi kebesaran tanah kelahiran
pesta itu
pesta akbar demokrasi
ada sesuatu yang gamang
ada banyak tertanggal
sebab tak menyaput kedalaman khalayak
terputus pola arah sampai ke akar rumput
tak terjamah dan tersentuh
banyak hati
saling merangkul kebingungan
saling bertanya jawab sendiri
sebab tak ada suluh sebagai pedoman
pada akhirnya
bagaimana kita menilai hasil
bagaimana kita mengunduh hasil
pesta ini
semestinya bukan menjadi beban
diatas himpitan
menghadapi kehidupan
sebab tidak semua mengerti
sebab kemampuan beda arti
cepu, 10 maret 2009
Thursday, March 5, 2009
batas itu
semua tak mampu dihentikan
meski guruh melumat dan meluluhkan
gugusan perasaan adalah bongkahan bukit berjejal
tak bergaung namun kasat
menghembus memayung cakrawala
tak mengenal batas dan dinding tebal
seperti juga tentang perasaan kita
tersembunyi dalam kelokan waktu
dikedalaman hati
bias berpendar terdiam dan bermain disudut mata
dimana hanya kita yang mengerti
sering kenangan kucoba putar sendiri
dimana kurasakan suasana waktu itu
nyanyian perjalanan disudut malam
begitu nyaman ternikmati
dimana bebas tertebar untaian rindu terkatup satu
aku tak pernah mengerti
bahwa semua tak mampu terhapuskan
mendarah dalam geliat menggunung dalam pokok jantung
menyentuh lembut bingkai tulus aroma tembang
tajam beriring membuka dan berbaur diangan mulia
dimana hanya kita yang mengerti
batas itu masih berdinding
tak juga bergeming
batas itu masih tegak menjulang
tak mampu diruntuhkan
cepu, 5 maret 2009
Wednesday, March 4, 2009
walau sesaat (rindu buat C)
bersama bintang
dalam resah meremas
setiap kesempatan
sudahkah kau baca
gelisah hati
sendiriku mengupas sepi
akankah rasa
terbentuk kehadiran nyata
walau sesaat kau menari
mampu diam sembunyi dibalik mata
semayam abadi
tak mampu juga terusir
mungkin aku tengah kasmaran
hingga rasa seperti saat ini
selalu ingin bertemu
meski kusadari
tak semudah angan angan
mungkin aku tengah tergoda
sebab kau telah jadi sesuatu
walau sesaat kau hadir
adalah misteri
dan aku tak menemukan jawab
cepu, 4 maret 2009
Monday, March 2, 2009
dimana
entah dimana kau sekarang
di simpang empat
dibatas trotoar
kau terbiasa bernyanyi
mulutmu yang mungil
bibirmu yang indah
serak menembus lengking deru siang
ataukah semburat kau sembunyi
kemana lagi kau sekarang
ataukah dirimu disana
gemulai mengayun lemah
seirama tepukan tangan
beradu lirih suaramu
tatapan menembus hati
uluran tangan mengupas bumi
adalah matahari
inilah hidupmu
entah dimana
aku telah kehilangan
diantara roda di jantung metropolitan
nasib kita tak beda
aku merindukan dirimu
ingin kuutarakan sebuah rasa
bahwa aku mencintaimu
bahwa aku kini baru merasa
kau mematahkan hati
cepu, 3 Pebruari 2009
sepi rindu malam
membiarkan pikiran mengembara
kearah mana pasti aku tahu
segala gampang terbuka
memeluk manis wajahmu
isi gelisahku
sepi rindu malam
petikan sunyi merambah jendelamu
kau dengarkah suaraku
memanggil
ataukah kau sudah tertidur
ijinkan aku mengayunmu
ajaklah dalam mimpi berbinar
bermain pelangi dan mata air
biarkan kisah kusut disudut
sejenak berselimut damai
hijaukan batas jarak
dalam gelak riang
indahnya bulan tak diam berlagu
kita adalah anak manusia
sandang warna cerita duri dan badai
dinding tak juga runtuh
agar kita segera lewati
untuk tanamkan isi hati
dan suburkan
surga di padang kehangatan
cepu, 3 Pebruari 2009
