Sunday, May 31, 2009

bagai gerhana bintang rembulan

tulisan masih tertinggal disana
titipkan jejak selamanya
didalam sudut buku harian
mungkin sudah mulai berdebu
bahkan enggan untuk dibaca

hati merasa masih disana
dalam kedamaian ruang mungil
tak ada kabut tebal
susah mempercayai
sekarang gelegar terjadi

pintu sudah terkatup
bahkan anginpun tak mampu mengetuk
bungkam terdiam
tak terlihat senyum
walaupun hanya samar
bagai
gerhana bintang rembulan

kembali geluti ladang puisi
tandus menghempas luka
tak lagi ungkap binar gemintang
seperti dahulu
tulisanku tulisanmu
bagian kontradiksi
membakar sudut cinta
pupus menghitam
disapu gelombang pasang

tak mampu menghentikan
kakimu berlari demikian jauh
hati tak kuasa merengkuh
sebab waktu tak pernah cerita
hentakkan nyenyak
terbangun tinggal bayang kelabu
tak lagi ada disini

cepu, 31 mei 2009

puisi seutuhnya »»

Tuesday, May 26, 2009

kini buku usang kutemukan

sekarang aku semakin mengenalmu
engkau cantik begitu sempurna
namun aku begitu ragu
untuk berani bicara
dengan bahasa sederhana
apakah ini
perasaan sebuah cinta
aku tak mengerti
aku selalu menaruh harapan
membawa rindu tak perduli waktu

aku kini mudah menuang kata
diatas kertas biru muda
terkirim lewat teman
meminta sederhana
katakan kenyataan hati
bahwa aku sangat rindu kamu
maafkan bila masih malu
untuk bicara berhadapan
aku begitu gamang
aku takut semua tak menjadi nyata
sebab goresan resah tak juga terbalas
inikah ujian
inikah penolakan
mendekap ketakutan
keraguan sepanjang waktu

aku selalu ingin lewati jalan itu
sebab aku tahu
engkau setia menunggu
dibalik pagar coklat muda
engkau duduk berteman bunga
ditaman sebelah kolam
beratap rumbia
mestinya aku harus berani
untuk sekedar mengetuk pintu
aku ingin menatap cantik wajahmu
namun mengapa
tak juga kaki meminta berhenti
bahkan kurasa semakin berlari
terasa dentum dada memburu
seperti juga langkah kaki

aku tergelak
aku tertawa
buku harian masa sekolah
usang sudah
kini kutemukan

tertulis galaunya hati
seperti tekukur bermandi embun
tak tahu berbuat apa
hanya mata bicara

kini buku usang
adalah cerita termanis pernah datang
kemana aku harus bertanya
dimana dirimu sekarang

cepu, 26 mei 2009

puisi seutuhnya »»

Saturday, May 16, 2009

hari terindah

pagi
adakah resah membelit
seperti kesendirian disini
pelampiasan meninju angin
hati terkapar
semakin koyak terpapas

pagi
depan hari terindah
tidak seharusnya terdiam
semestinya begitu dekat
seperti kidung dahulu
atau
selalu nikmati masa lalu
tiada koyak terpapas

pagi
membiarkan gerimis berpayung
tak satupun waktu
memendar kesempatan
bila tangan bisa menggendong
dan kembali
kelak
kaki langit berharap
depan hari terindah
ada lelagon burung burung

cepu, 16 mei 2009

puisi seutuhnya »»