Saturday, December 4, 2010

geladak aspal ampera

bumi sekayu banyu asin
BG 1781
angkat menembus kota
bawa keingintahuan

durian menipis penat
membelah resah
jejeran rumah panggung
melukis batas buliran air sungai
menyatu kesederhanaan
teriknya waktu
minum dogan
sungguh hati semakin galau
mengepras keraguan
aku yakini bukan mimpi
lirih kusapa
aku ada dibumimu
menembus hujan
alang alang lebar

masjid agung
kumandang syiar
angin sore
menggantung kawasan musi
pasar enambelas
pasar tujuh ulu
geladak aspal ampera
tak henti riuh
telah kusapa
diatas jembatan
kucoba berkaca
ikan tapa
patin
juaworo
baung
memainkan tarian
seperti sampaikan
selamat datang

river side restoran
disudut kelam diam sendiri
membungkus nyanyian silam
tak juga utuh
aku tulis tentang kesengsaraan
kutitip atas gelombang
semoga tetap disimpan
malam memberi lampu gemerlap
geliat jembatan musi berbinar
dalam hening benteng kuto besak
begitu teduh
seperti rindang taman kambang iwak besak
membawa setia sendiriku

palembang, 4 desember 2010

puisi seutuhnya »»