Tuesday, February 17, 2009

buka itu buku kita

bolehlah buku harian sedemikian usang
kuharapkan yang sempat kutulis menjadi kekal
dimana sebaris ungkap diri
sengaja kutinggalkan disana
kutitip
dan engkau simpan
diurat darah sampai senja mengunci

walau kidung tak lagi bergaung
kelabu nuansa tatanan orkestra sendu
menjerat dalam jemari
mengiris merobek menyirnakan
dan kita simpan
diurat nadi sampai gelap mengunci

jalan disana
suasana itu
haru biru
luka dimana
adalah lembaran lapang
semua tertulis
di panjang sisi waktu
buka itu buku kita
buku itu buka kita



cepu, 17 pebruari 2009

puisi seutuhnya »»

Monday, February 16, 2009

gugusan rindu

dalam pekat malam
angin beku
bergantian
ada cerita tertebar
tak henti saling berkasih
kehangatanmu kurasakan
segala berharap terlabuhkan
perasaan ini jadi satu

dalam kering hari
dibatas perjalanan
sebuah pedesaan
sengaja kita selami
memanjakan suasana
di gelak dingin air telaga
kita duduk begitu dekat
hembusan nafas
melengkapi alam tersenyum
inikah jatuh cinta

bersama melintas sepanjang rindu
membawa genggam biru
berkhayal berirama
melantunkan tempo gugusan rencana

diderai hujan sore
luruh berpadu
bersilang indah meremas rasa
terdiam kubangga sebuah cinta
menari dalam irama gemulai
bersatu kita
menembang nyanyian surga

diatas sepasang burung
duduk beradu
berarak mega dikaki bukit
terdiam ku saat kau berucap
lepaslah burung terbang
terjatuh kita
perumpamaan itu ternyata nyata


cepu, 16 pebruari 2009

puisi seutuhnya »»

Friday, February 13, 2009

bukan lagi matahari

asap masih tersisa dan menyiksa
diam dalam embun melayang dingin pagi
gelap beriring deru
mengarung jalan
mematahkan eloknya matahari
waktu mulai memburu

bersama kita segera berfikir
melepas angan yang gamang
tak seharusnya kita kubur asa
dimana belum sempat tersimpan
kita seharusnya gigih menawar
sebab jalan tak selalu indah

asap masih tersisa dan menyiksa
letih terawang jarak dimana dirimu ada
luka ternyata tak mengenal batas dan terlupa
engkau adalah senja malam
terdiam dalam hati cidera
terpaksa langkah tak bertongkat
dirimu bukan lagi matahari

pekanbaru, 13 pebruari 2009

puisi seutuhnya »»