aku ingin kau rindu
seperti apa yang kurasakan
datanglah membuang sepi malamku
berharap kehadiran
dan berkata
bahwa rasa rindumu juga ada
aku takut menemuimu
sesaat setelah ungkap cinta kukatakan
aku tak bisa mengerti
kegelisahan begitu menyesakkan
aku tak berani melangkah
mungkinkah sekarang engkau marah
pada sikap keberanian
dan telah kulontarkan
aku berharap engkau juga rindu
dan datang memeluk resahku
pada mimpi
menggantung keinginan
jangan hanya menatap angin
bila ronamu datang menyentuh resahku
cepu, 26 juni 2008
Thursday, June 26, 2008
aku ingin kau
Tuesday, June 17, 2008
seandainya
Seandainya rasa kangen ini terlabuhkan dengan mudahnya
Seandainya keinginan bersatu segera menjadi nyata
Seandainya kata hati ini segera terselimuti
Seandainya mimpi ini bukan hanya sekedar bayang belaka
Seandainya kegelapan malam ini kita lewati bersama
Seandainya rintik hujan kita nikmati dengan nafas kelegaan
Seandainya dapat kubisikkan rasa setiaku siang malam
Seandainya lintasan waktu ternikmati dalam satu
Seandainya genggam tangan kita erat tak terlepas
Seandainya jarak yang tak terbatas ini semakin merapat
Seandainya keinginan ini tidak bertepuk sebelah hati
Seandainya hatimu memang terpatri hanya buatku
Seandainya kata indahku bisa iringi lelap tidurmu
Seandainya pelukan hangatku dapat meneduhkan kepenatanmu
Seandainya hangat kerinduan kusembahkan setiap waktu
Seandainya rindu sayangku bisa isi hari harimu
Seandainya lagu kesukaan itu bisa kita nyanyikan bersama
Seandainya sejuta puisi cinta bisa kita cipta berdua
Seandainya embun pagi tergapai dalam seiring
Seandainya mata hati ini gelayut tak bercabang
Seandainya aku tak pernah lagi duduk dibangku sendiri
Seandainya malam sepi ini tak kurasakan sendiri
Seandainya gemulai bintang rembulan tak menatapku sendiri
Seandainya angin malam tak mengusik rasa sendiri
cepu, 17 juni 2008
Monday, June 16, 2008
kuyakin pasti menangis
seandainya bertemu denganmu
tak tahu sanggupkah aku
menahan haru
kuyakini tangis akan bicara
dan sesak kurasa
mengertikah engkau
rasa rindu begitu melumatku
selalu kugambar
di penat perjalanan
aku tak ingin kehilangan wajahmu
terhitung warsa telah terpisah
dibentang jarak yang nyata
kadang aku harus menerima kenyataan
tetapi tak mampu aku pungkiri
aku tak mampu kau tinggalkan
aku terlanjur jatuh cinta
selintas kadang bayangmu hadir
menyergap sendiriku
isi pekat malam
sentuh potret senyumanmu
membawa cerita hari kemarin
cepu, 16 Juni 2008
Saturday, June 14, 2008
kelok batas jalan
kembali ditempat yang sama
ternyata tidaklah sama
tak ada engkau disisi
seperti hari dahulu
tarian air telaga masih berirama
dimana kita pernah duduk merangkai kata
sekarang aku sendiri
dan hanya mampu memeluk bayangmu
dibangku bebatuan
taman mimpi
kembali ditempat yang sama
sesak dada menikam nikam
engkau telah jauh dan berlalu
membawa hatiku
terkapar diseluruh perjalanan
selintas aku menyergap hatimu
kugendong mengusap kerinduan
kudekatkan dengan rasa cinta yang masih ada
walau sesungguhnya semua hanya luka
aku disini sendiri
menatap gunung lawu disebelah
kabutnya yang tipis merenda senja
aku ingin memelukmu
selamanya
seandainya
sarangan, 14 juni 2008
Saturday, June 7, 2008
mungkinkah mampu bicara
maafkan aku bila nanti
berlaku tak seperti biasa
telah kupersiapkan segala keberanian
untuk mengatakan rasa yang selama ini aku pendam
ingin kata hati ini
mampu berbicara sejujurnya
meski kusadari terlampau berat
keraguan membelenggu setiap hasratku
dan kematanganku
ingin kuubah serentak mimpiku
dan kuajak dirimu serta
sebab hanya kau seorang
membawa segala yang ada begitu sempurna
maafkan aku bila nanti
kukatakan rasa cinta kepadamu
bila semua bisa mengalir dan berbicara
aku tak mampu membayangkan
jangan kau tertawa
aku tak ingin kau anggap sekedar teman
aku tak ingin sekedar berbincang
rasa rasanya begitu lain
aku memandangmu
aku memendam rasaku
aku tak ingin kau anggap sekedar angin lalu
aku tak ingin sekedar penghibur resahmu
rasa rasanya begitu lain
aku menyayangmu
aku merindukan kamu
maafkan aku bila nanti
hanya terdiam tak mampu berbicara
sebab aku mungkin telah kehilangan keberanian
dan tak kuasa mengatakan yang sebenarnya
cepu, 7 juni 2008
Thursday, June 5, 2008
tak semudah kata
aku harus bagaimana
mengupas benang kusut yang ada
terdiam tak lagi mampu berbicara
sementara semua telah terjadi
mungkin aku seperti menjauh
sembunyi dari beban yang kau bawa
aku berharap kau mengerti
aku juga telah melangkah
mengapa api murka membara gampang tersulut
begitu cepat tudingan kata salah terucap
bertindak dengan naluri sendiri
tak peduli
tak peduli
tak mau mendengar walau satu kata
aku harus bagaimana
ternyata tak seperti genggam rencana
semua menutup telinga dari kata
sedikitpun tak memberi ruang
untuk bisa menempatkan
keinginan mulia
menyatukan hati
dan perasaan ditengah api
entah kapan padam
cepu, 5 juni 2008
Tuesday, June 3, 2008
tak juga mengerti
menulis satu kata ternyata susah
ketika hati begitu gelisah
dari terbiasa mengalir
sekarang beku
tak mampu mengungkap keinginan
kata kata tajammu
bagai cemeti membakar asa
meretakkan bingkai
setia kujaga
seharusnya jarak yang ada
bukanlah awal problema
musim yang dingin
penuh embun di sisi jendela
tulisan dinding kamar
belum hilang
kita diajarkan berdiri sendiri
sebelum singgah dimakna tulus sebuah perkawinan
mengirisku
di sepi malam
tak terdengar lagi suara
kita kehilangan suara
dering telpon telah tidur
tak juga ingin kusentuh
mengapa aku tak juga mengerti
bahwa ini makna sebuah bahasa
cepu, 03 juni 2008
Sunday, June 1, 2008
indonesiaku
riak perjalanan sebentar usai
mulai merapat kesisi dermaga
terpaan badai diluas samudera
perlahan tersingkap
berganti elusan angin daratan
berangkat bersama
berseru arah kegemilangan
terantuk
terjatuh
terjerembab
berdiri sekuat napas tersisa
walau berdarah darah
kini lihatlah
kibar sang bendera kemenangan
melesat menembus batas bumi
teriak
terpana
mulut ternganga tak percaya
negeri yang besar
dengan nama besar
penuh kharisma tersebar
menyentuh sisi benua seberang
indonesiaku
bertimbun sejarah
kumandangkan kekalahan dan kejayaan
silih berganti cerita
bagian dari zaman
bendera semakin berkibar
membawa kekuatan anak negeri
bangkit
berdiri kaki tegak berwibawa
tak lagi tertunduk malu
tak lagi kehilangan roh
sebab
tak lagi tersisa masa lalu
tentang kegelapan
tentang kelabu
indonesiaku
biduk kapal sudah menyapa daratan
tegaskan nurani
niscaya kebesaran
segera terdekap
dalam lingkar kemakmuran
tak terhabiskan
cepu, 01 Juni 2008
