Thursday, June 11, 2009

betapa indahnya dunia

betapa indahnya dunia
bebas nikmati hangat matahari
bernyanyi bintang rembulan
melebur hutan rimba
berselimut embun
ketinggian bukit
pandang puspa pesona
berbisik angin samudera
menari satwa atas padang

betapa indahnya dunia
bebas senyum dan tawa
lepas tercurah hati
tak pandang warna
berbaur satu
lenggak lenggok budaya
kumandang tembang
berpadu dalam senang
semua adalah keluarga

betapa indahnya dunia
tak ada pongah dan rakus
tak ada takut
damai menyisir hidup
saling rindu
ingin bertemu
dan kehilangan
akrab menanam kabar
titip salam
untuk saudara disana

betapa indahnya dunia
bila tak ada hasrat buat bencana
tak ada hasrat melukai
tak ada hasrat mencederai
tak ada hasrat mengingkari
tak ada hasrat putus saudara

betapa indahnya dunia
bila hanya ada hasrat melindungi
selalu ada hasrat menghormati
selalu ada hasrat menjaga
selalu ada hasrat kedamaian
selalu ada hasrat gandengan tangan

cepu, 11 juni 2009

puisi seutuhnya »»

Saturday, June 6, 2009

lewat sini

lewat sini
gelora masih terbuka
dimana singgasana cinta
tetap melambai abadi
lama menanti
sang dewi meniti bagai putri
senda beradu mengumbar asa
tak terbelit ragu
menebar apa adanya

lewat sini
pintu selalu terbuka
peduli waktu kau mengetuk
kesegaran mendekap
bukanlah tersisa
segala telah bersiap
cangkir madu kasmaran
ingin kutuang
sambil bersulang melepas rindu
kibaskan angin benalu
mari berdua singkirkan


lewat sini
tangan masih membawa sepi
lewat sini
melalui waktu layaknya dahulu
lewat sini
jalan itu masih menunggu
lewat sini
kelok malam ingin kembali berlagu

cepu, 6 juni 2009

puisi seutuhnya »»

Tuesday, June 2, 2009

ibu (aku kehilangan waktu)

ibu
tegar dihembus warna pekat
lirih tengadahkan doa
buat kumbang kecilmu
dalam kacaunya waktu
kerap kulihat kau menangis
rebah jeremba kepadaNya
berharap tanganNya mengelus
agar bisa sejenak tertidur pulas
dalam zaman sedemikin garang

ibu
lingkaran masa gelumang gulita
menapak kaki renta sendiri terantuk
bila aku tak terlambat engkau lahirkan
pasti kakiku tidak seperti pucuk dedaunan
pasti tanganku seperti bebatuan alam
niscaya dapat hadirkan mentari
agar mampu hilangkan penatmu
namun
aku kehilangan waktu

ibu
embun zaman lesat mulai menipis
kokoh keringat kaki kumbang
merona gagah
wajah sang rajawali
terbang edar alam raya
mengusir kabut

ibu
terasa perih mengiris anakmu
dibalik kecipak gemerlap
sebab aku telah jauh terlambat
wujudkan keinginan
masa silam
agar mampu hilangkan penatmu

ada doa
ada percaya
bahwa engkau telah tersenyum
dalam ruang damai dikakiNya

cepu, 2 juni 2009

puisi seutuhnya »»