jauh disudut kota kecil,
kering dan berdebu,
didalam kebesaran tanah jawa,
kau,
lebur berkait didalam,
bagian kisah keberhasilan,
tegak menyisir kisaran waktu,
di bentang jarak tak angka,
gapai selaksa ilmu,
tak letih,
tak lelah,
berpuluh buku,
kuasai geloramu ,
semangatmu adalah api,
kau adalah masa depan,
bumi kalimantan,
setitik saja kami membagikan,
setetes saja kami memberikan,
namun keyakinan yang nyala,
adalah gambar,
bagai panah lesat meluncur,
gali dan kaji dalam kedalaman,
langkah telah jadi penentu,
matamu tajam terisi,
tanganmu gemeretak
tergenggam mercu suar,
untuk segera berdiri,
kakimu,
hatimu,
runduk berbakti,
kepada satu kejayaan,
menebar cahaya dibelantaramu,
gemuruh,
diantara tarian lautan,
bumi kalimantan,
aku yakin engkau akan berkibar,
aku yakin engkau semakin bermakna,
aku yakin engkau tak tersia,
aku yakin engkau akan memberi warna,
sahabatku,
adik adik pemberani,
dikisi kisi jalan,
dibelahan bumi seberang,
layar akan menempuh badai ,
ombak akan semakin terasa ,
asahlah diri,
tajamkan nurani,
sebab,
tantangan akan berpelangi,
dan lihatlah,
dan dengarlah,
keberadaanmu
pasti diakui.
cepu, 29 oktober 2008
for mstt total indonesie
Wednesday, October 29, 2008
bumi kalimantan
Wednesday, October 22, 2008
sosok manusia
sering kita baca
sering kita lihat
sering kita dengar
bahkan sering kita hadapi
sosok sosok manusia
semburkan wawasan tak berisi
terlihat lucu dibalik baju kebesaran
kosong jauh dari amanat tersandang
kita kadang malu
sebab terlanjur dianggap figur
walau kita tahu dari mana dia muncul
dan kita hanya bisa elus dada
semua serba instan
semua ada karena lingkaran
meskipun kadar nalar jauh dari kelayakan
dia belum waktunya
dan dia memang tak perlu diberi waktu
kuasa bukan untuk main main
sebab tangannya adalah pertaruhan
mundur kebelakang
atau lepas melesat kedepan
kita hanya bisa melihat hasil
kita hanya menyesali hasil
sosok sosok manusia
penuh misteri dibalik figur semu
kita tak punya cemeti untuk mencambuk
saat seharusnya dia memberi terbaik
mereka telah terlupa
kuasa memang nyaman ternikmati
cepu, 22 oktober 2008
aku ingin
aku ingin pinjam tanganmu
lentik mengusap pipi
buang mendung
bawa rona
tanamkan lagi
kering hati terjatuh padam
aku ingin pinjam hatimu
sejuk dinginkan dahaga
rindang tandus penuh belukar
sirami dengan embun
agar kembali berjejer teduh
aku ingin pinjam tanganmu
aku ingin pinjam hatimu
aku ingin membawa selamanya
cepu, 22 oktober 2008
Tuesday, October 21, 2008
dia
terlelap dan terkapar
diatas sepotong papan
berteman matahari
menerobos dinding kertas
tak berpintu dan berkaca
dia tak bermimpi
dan dia tak pernah berharap mimpi
sebab baginya mimpi adalah luka
dan tak patut dibayangkan
mimpi
jejeran parodi ketakutan
menikam beban tak berdasar
dan gamang rebah tertidur
siang malam
sebab mimpi niscaya terwujudkan
sebab mimpi hanya jauh diangan angan
seandainyapun dia harus bermimpi
dia hanya ingin bisa bertahan
digelap hidup
disisa perjalanan
cepu, 21 oktober 2008
