menginjak rimbun dedaunan
ditengah rimba yang masih tersisa
belum punah
aroma purba
terasa begitu dingin
tetes tetes air diakar bumi
matahari sipit terlihat
wajah bulan tebar sekitar
bintang telah bernyanyi
laksana simponi berbaur malam
tanganmu menulis puisi
sudah jauhkah yang kita lakukan
ungkap kebesaranNya
seharusnya biarkan apa adanya
gelap rimba seperti ini
tak semestinya
harus terkoyak dan tersakiti
rimba telah kurus kering
sebab lengannya telah menjadi perumahan
sebab kakinya telah menjadi pertokoan
sebab kepalanya telah menjadi pabrik industri
tinggal tubuhnya
yang mulai menguncup
yang beranjak menuju kepunahan
ada tangisan
ada nyanyian
berbaur diiringi denting gerimis dan kabut
sentuh timbunan puisi
dalam usapan angin
dimanakah engkau berlalu
tinggalkan sendiriku
didekap dingin pagi
diatas bebatuan
terdengar engkau bersenandung
cepu, 2 januari 2009
Friday, January 2, 2009
rimba rimba purba
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment