Friday, January 2, 2009

rimba rimba purba

menginjak rimbun dedaunan
ditengah rimba yang masih tersisa
belum punah
aroma purba


terasa begitu dingin
tetes tetes air diakar bumi
matahari sipit terlihat

wajah bulan tebar sekitar
bintang telah bernyanyi
laksana simponi berbaur malam
tanganmu menulis puisi
sudah jauhkah yang kita lakukan
ungkap kebesaranNya


seharusnya biarkan apa adanya
gelap rimba seperti ini
tak semestinya
harus terkoyak dan tersakiti

rimba telah kurus kering
sebab lengannya telah menjadi perumahan
sebab kakinya telah menjadi pertokoan
sebab kepalanya telah menjadi pabrik industri
tinggal tubuhnya
yang mulai menguncup
yang beranjak menuju kepunahan

ada tangisan
ada nyanyian
berbaur diiringi denting gerimis dan kabut
sentuh timbunan puisi

dalam usapan angin
dimanakah engkau berlalu
tinggalkan sendiriku
didekap dingin pagi
diatas bebatuan
terdengar engkau bersenandung

cepu, 2 januari 2009


No comments: