Wednesday, December 24, 2008

sang lelaki

lelaki itu duduk sendiri
berlindung langit basah
senja menutup

hatinya gelisah
mata letih tak jenak
dia tengah bergelut sesak

selalu hadir
senyum tikam kegalauan
disadari tak semua teraih
dua hati yang ingin dimiliki
meski semua adalah rindu
dan tak sanggup untuk dibenamkan

rasa cinta itu begitu dalam
rasa satu itu begitu membatu
sesak dada
harus kah mimpi terjadi
haruskah selalu terbagi
langkah terayun kemana
lelaki itu tak mampu berfikir

dua hati
dua senyum
bersama melintas waktu
sisa jejak yang tertulis
tak akan terbuang
bahwa disana pernah ada kasih
bahwa indahnya hari sempat terisi

disini hati lelaki itu kini
disana hati lelaki itu kini
diyakini tak bisa selamanya
dia mesti memilih
dia harus memilah
atau dia mesti berlari menembus kelam
hanya bawa luka dan kekalahan


cepu, 24 desember 2008

puisi seutuhnya »»