bumi sekayu banyu asin
BG 1781
angkat menembus kota
bawa keingintahuan
durian menipis penat
membelah resah
jejeran rumah panggung
melukis batas buliran air sungai
menyatu kesederhanaan
teriknya waktu
minum dogan
sungguh hati semakin galau
mengepras keraguan
aku yakini bukan mimpi
lirih kusapa
aku ada dibumimu
menembus hujan
alang alang lebar
masjid agung
kumandang syiar
angin sore
menggantung kawasan musi
pasar enambelas
pasar tujuh ulu
geladak aspal ampera
tak henti riuh
telah kusapa
diatas jembatan
kucoba berkaca
ikan tapa
patin
juaworo
baung
memainkan tarian
seperti sampaikan
selamat datang
river side restoran
disudut kelam diam sendiri
membungkus nyanyian silam
tak juga utuh
aku tulis tentang kesengsaraan
kutitip atas gelombang
semoga tetap disimpan
malam memberi lampu gemerlap
geliat jembatan musi berbinar
dalam hening benteng kuto besak
begitu teduh
seperti rindang taman kambang iwak besak
membawa setia sendiriku
palembang, 4 desember 2010
Saturday, December 4, 2010
geladak aspal ampera
Thursday, October 7, 2010
tembang sore
buka catatan
menjumpaimu kala cium sore
dimana kerap tautan rindu bicara
harum gerai rambut
masih sentuh kangen
sampai kini
dekat
teramat dekat
tak bertabir jarak
kelopak matamu
adalah tempat ku senandung
simpan kehangatan
masih getar ruang kalbu
kau
semakin lelap dalam diam
bahkan melayang menuju temaram
sengaja menghilang
lupakan tulisan senja
tanggalkan segala puisi
ruang kita bercanda
kita tak sampai tangga ujung
untuk mengakhiri pendakian
entah mengapa
tak berani bergerak
seperti menggunting angin
tak berbekas
aku
tegas berpegang
melakukan kesendirian
menggambar imajinasi
dimana sempat aku berharap
kepadamu
cepu, 8 oktober 2010
Friday, August 20, 2010
dirimu
kau tak berhenti menyakiti
jauh membawa kalbu berjarak
membuat aku semakin pintar membandingkan
tak perlu kaki melangkah
dirimu telah rebah
hanya kala indah dulu
kau benamkan sebaris harapan
lupakan keinginan bersama
kau kembali mendekap belukar kesemuan
pedulikan ketegasan hati
lebur sapa figur kesombongan
dan
kini kembali dapat
kau
adalah jelaga malam dimana resahku tak diam
menutup sisi dinding gemerlap
membunuh putik
harum rembulan
dianggap nyanyian
kau
adalah udara menggantung ujung jantung
luruh menembus pori kematian
nyaman mengulur ditikung waktu
menunggu lengah
kau menikam
cepu, 20 agustus 2010
Saturday, June 19, 2010
anakku (hari barumu)
kakimu melesat
buka kabut pagi samar
belum usai pukul tujuh
teriak lantang berontak
ingin terbebas
dari gandeng tangan
gagah pintu gerbang
taman kanak kanak desa
melepasmu sekarang
belajar pematang kehidupan
padang harus kau telusuri
sebab hari didepan
adalah bagian kau raih
kayuh tak cengeng
apalagi bermanja
mesti kau kalahkan
nalurimu sekarang
belajar hitam putih
tak semudah memilih warna
sebab titik tujuan
tak diam
berwajah pelangi
siap bekal
bawa jilat samudera
bergelora tak surut
diatas lautNya
cepu, 19 juni 2010
Friday, May 14, 2010
doa
ujung senja
entah
mungkin tak lagi baca
pada gugusan jalan hari silam
begitu manis
teramat dekat
membelenggu rapat
masih aku gendong perjalanan
meskipun jatuh
tengadah berharap matahari
ujung malam
doa
kumandang kuncup mawar
manis terlahirkan
merebak rona buana dan hati
menunggu kembali ada ruang
untuk menaruh sekeranjang
nyanyian suka
dekatnya mimpi
memetik waktu dahulu
ujung pagi
mata galau bicara
bumi kelabu
berlari tak arah
sendiri membuka cerita rencana
mudah tersiakan
asa bermain kosong
senyap terdekap
sepi teraih
aku kehilangan telaga
dimana sempat aku menyelam
bawa kesegaran
ingat isyarat burung
terbang disisi ranting
kata katamu
membawa kebenaran
hati masih menangis
ternyata
ujung relung
hanya bisa merenung
ujung mata
hanya buat rencana
cepu, 14 mei 2010
Monday, February 1, 2010
catatan kecil tabir hati
embun kupas ujung pagi
dekap asap kibar semalaman
pematang lengang simpan diam
tunggu anak anak berlarian
kaki kecilmu terbanting
dibelit tangan jerami
baju basah tersangkut tanah
tak ada tangis
bahasa terbiasa
menatap jalan tinggal belokan
batas pokok akasia
selamat pagi
sekolah dasar
kembali rinduku datang
nyanyi kibar bendera
sapa matahari
sapa pedesaan tak riuh
berulang geliat sama
tak bosan dengar cerita
musim tak terpenggal waktu
jauh sentuh zaman
tak polusi nafsu pongah
sederhana merunut titah
tak diubah
tak mau mengubah
nyanyi tembang pedesaan
tempat aku terlahir
aku pamit
beranjak
kaki mesti kembali kekota raya
dimana penuh pantomim
sedetik mampu ubah cerita
tak beriring nalar
bahkan lebur memainkan lelakon
tentang kemunafikan
aku bawa kesejukanmu
aku simpan keteduhanmu
aku jaga hening fajarmu
aku rindu sederhanamu
cepu, jember, pebruari 2010
