Monday, November 23, 2009

gemuruh tanah merdeka

jangan kepakkan sayap
apalagi memadamkan cahaya
biarkan bingkai pelita berpendar
meskipun temaram
diam jaga fungsi lidah
kita adalah terdepan
kejayaan harus melihat kita
angkat keberanian setinggi matahari

berdiri ditanah sempurna
tanam bangga darah dan nyawa
sujud bagi kejayaan nama
kita pilihan yang terbaik
jaga negeri
bersatu
selangkah surut kebelakang
runtuh pijakan menuju jurang
tanpa bendera

gemuruh jiwa ksatria
selendang berani
kita bukan tanah penakluk
kita bukan tanah yang takluk
hanyalah kebenaran
hanyalah kejayaan
diatas segala
harus tetap tertulis
bangsa merdeka

cepu, 24 november 2009

puisi seutuhnya »»

Friday, November 20, 2009

telusuri damaiMu

karangkitri berjajar
seperti jemari
jalan setapak menyempit
menembus belukar
hembus dersik sentuh punggung
sayup air gerojok atas tebing sisi timur
dimana matahari memberikan pelangi


akar berjuntai tetes embun
didalam gelap
kucoba meraih rembulan
taut meraut lebur damaiMu
tak ada beringas meski melengking satwaMu
kaki ini begitu kecil
untuk melintas bumi meski harus merawang
tidak sepatutnya merenggut
pongah menguasai milikMu
bahkan berteman cemas

ada yang mengikuti pulang
seperti pelasik mencoba hinggap
anugerah meski sebutir gersik
tenangMu tersimpan dalam rongga
terdiam diputik jantung

cepu, 21 november 2009

puisi seutuhnya »»

Thursday, November 19, 2009

ujung keinginan

boleh kubaca tulisanmu
mungkin angin bicara mengada ada
pada sesuatu tidak selayaknya
sebab kita sempat berdiri disana
menggabung hati dan pikiran
menghitung hingga bilangan terakhir
berharap jejak tak terlewat
agar bisa menyisihkan tawa
dan menggulung sakit ujung langkah
meskipun sesaat

boleh kukupas curahanmu
dan membiarkan membaca kejadian
sebab sesungguhnya bekal telah sempurna
tak pernah terhenti mengggali
bahkan bertanya gugusan bintang berekor
memadukan keinginan esok hari
walau kupikir telalu lama
sebab setiap kejadian tak sesuai asa
selalu saja ikat belukar menghitam
hari terasa masih belum berganti

selalu terdengar penuhi fikiran
suara bergema tak senada
buram
suram
kehilangan kekuatan
ujung seberang jembatan masih menunggu
namun kita hanya berbekal diam
dan sebaris tanya mengapa
begitu sulit menembus pencarian
ataukah kita yang tak mengerti
bahwa jalan didepan hanya mimpi
ataukah kita membelakangi kaki langit
dan tak segaris mata angin

cepu, 19 november 2009

puisi seutuhnya »»