senja menutup
gerusan angin menghentak malam
terobos langit memaku burung terbang
bergelombang tetes cinta
tangismu membahana
membaur nafas kelegaaan
engkau hadir
membawa cerlang merona butiran madu
selamat ulang tahun
pendampingku
kusentuh hatimu
beriring doa dalam relung kalbu
asa melambung lingkar keselamatan
bergandeng keluhuran
selamat ulang tahun
semoga panjang usia
dalam ikatan terdekap
menembangkan cantik mawar
berbalut dingin mata air
selamat ulang tahun
istriku
kucium pipimu
memandang dalam sisi kulit menua
kembali jatah kita berkurang satu
melayari duniaNya
mari duduk berdoa
berharap warsa berikut
kita masih disiram kesempatan
berbaur hangat mata hari
cepu, 24 januari 2009
Saturday, January 24, 2009
selamat ulang tahun
Monday, January 19, 2009
maafkan aku
maafkan aku
ketika harus hadirkan badai dihatimu
semestinya gugusan pelangi beraroma damai
melengkap jarak
dimana kita terbiasa melintas
maafkan aku
berlaku tak sesuai mimpi
saat seharusnya hadirkan nyanyian bunga ditangan
mengapa sodorkan
sekeranjang akar benalu
maafkan aku
serentak berubah sikap
saat seharusnya ketegasan ingin engkau dekap
tak sepatutnya
aku meninggalkan bayang hitam
maafkan aku
masih membawa rindu
saat seharusnya terlepas seiring kenyataan
tak sepatutnya
aku berikrar menggapai hatimu
maafkan aku
tak berupaya segera berlalu
padamkan kumpulan kenangan disana
tak seharusnya
menggambar hatimu dikedalaman hati
cepu, 19 januari 2009
Monday, January 12, 2009
teratai prima ( dibumi majene)
memecah jejeran gelombang
berselendang ceria
berpagut rindu dan tembang
tak ada resah
tak ada kekhawatiran
bahwa nuansa
serentak lesat berganti
tinggi terpaan gelegar pasang
mengusik waktu
gemeretak dinding kayu
haruskah selesai
berpegang semampunya
gemuruh buih menyapu ruang
camar mengiris sepi sore menangis
saling menggapai
tak juga leluasa
sekedar kaki melangkah
perlahan tak ada lagi untuk berpijak
luruh menuju gelap
lagi
kembali
duka luka negeri
teratai prima kapal renta
adalah prasasti
jejeran kisah bencana
selalu berganti mengisi
tak henti
dan berakhir
cepu, 12 januari 2009
palestina
darah basah menggunung dikaki gunung
memerah kaktus
diantara gemuruh dentum
sembunyi asap langit bermesiu
berterbangan nama
menangis kering siang dan malam
langit berpendar
pelangi malam dibumi palestina
menggumankan nada nada kematian
terenggut serdadu bengis tanah israel
anak memanggil bunda bersamaan
bunda teriak anak beriringan
dalam rebah memeluk kakiNya
bersampan sayap malaikat
getir berdiri di tanah sendiri
menghadang letus dinding peluru
ketenangan haruskah dibeli
masihkah sembunyi
terbang kibar tentang kemerdekaan
dapatkah teraih
segala kapan berarti
tundukku kepadamu
sedihku pada ketakutanmu
tangisku dijasadmu
kuyakin kau telah digendongNya
cepu, 12 januari 2009
Saturday, January 10, 2009
keadaan
adalah embun
rasa cinta datang sejak dini
bahkan ketika engkau masih tertidur
kuketuk iringi musim
mendekap di bentang rindu
adalah ngarai
rasa kasih tumbuh di jarak berada
bahkan saat engkau terbang menjauh
kusentuh sembarang waktu
mendekap di senja malam
kau berbeda
kau sungguh berbeda
tak berwarna
bawa kepolosan
kau berlari
kau semakin berlari
tak terhenti
bawa gelisahku
adalah senyap
rasa rindu himpit ruang sendiri
menari dalam rongga sesak terdiam
kugapai bayang yang sembunyi angin
suara telah lelah menjerit parau
cepu, 10 januari 2009
Friday, January 2, 2009
rimba rimba purba
menginjak rimbun dedaunan
ditengah rimba yang masih tersisa
belum punah
aroma purba
terasa begitu dingin
tetes tetes air diakar bumi
matahari sipit terlihat
wajah bulan tebar sekitar
bintang telah bernyanyi
laksana simponi berbaur malam
tanganmu menulis puisi
sudah jauhkah yang kita lakukan
ungkap kebesaranNya
seharusnya biarkan apa adanya
gelap rimba seperti ini
tak semestinya
harus terkoyak dan tersakiti
rimba telah kurus kering
sebab lengannya telah menjadi perumahan
sebab kakinya telah menjadi pertokoan
sebab kepalanya telah menjadi pabrik industri
tinggal tubuhnya
yang mulai menguncup
yang beranjak menuju kepunahan
ada tangisan
ada nyanyian
berbaur diiringi denting gerimis dan kabut
sentuh timbunan puisi
dalam usapan angin
dimanakah engkau berlalu
tinggalkan sendiriku
didekap dingin pagi
diatas bebatuan
terdengar engkau bersenandung
cepu, 2 januari 2009
