kita masih ada dijalanNya
tak bersandar sandiwara
pijar fajar kukuh
semayam
berlatar kejujuran
kita bawa bagian kita
dimana tersimpan kesepakatan
tali masih bertahan
jangan patah lentera
sebab akan terbakar
geripis
cepu, 28 april 2009
Tuesday, April 28, 2009
kasih
Monday, April 27, 2009
titik metamorfosa
angin deru
jagat terjajah
dini hari
gersang menghempas
susunan aksara berselancar
nyata atau bunga tidur
dibalik belukar
burung kedasih menyayat
ajak berkemas
ritmis gerimis
bertandang manis
berteman kaki langit
mengurung bianglala pagi
ataukah nampak kahyangan
berselendang kain dewangga
tak ada jelatang
damai meniti awan berbatu
kakiku terjerat
seperti memberi waktu
jamah pesona senyumMu
jalan
berulang terpalang
tutup memenuh pikiran
getir sekat tabir benang
tertatih tak mampu menjangkau
tetes canting madu
dimana kelebat mata angin
meski secercah
raga ingin berteriak
namun langkah roda hidup
acap tersedak
dimanakah
kutemukan permadani
cepu, 27 april 2009
Tuesday, April 7, 2009
kutulis namamu di ujung daun
diam
merenung sisi ladang
seberang bengawan
telah bercabang dahan
merangkak tumbuh
lunglai batang padi
mengusir resah
masih tersisa hangat dudukmu
masih kusimpan tanpa batas zaman
sering ku kunjung
duduk membatu kadang waktu
meski bentang langit
kusadari
tak lagi seperti gambar kemarin
masih sisa kelok sepi
membawa perih
kuncup cerita bersama
telah meredup
hembus bergemuruh
lumat hati bimbang
benamkan angan
tak sempat bertahan
serentak terjatuh
semakin terjatuh
kutulis namamu di ujung daun
entah
aku merasa tenang
masih lekat
gerai rambutmu
kuusap lembut
berharap mengayunmu
namun cemeti gelegar menggerus
terpisahkan
menutup sejuta keinginan
padamkan matahari
jelaga tangis
patahkan rencana
jalan setapak
tak bernama
mengingatkan sebuah nama
gontai tunggu kehadiran
menyapa senyap
seperti ada menemani
mendung tak bergerak
melumatku
entah sampai kapan
kutulis namamu di ujung daun
entah
aku merasa tenang
cepu, april 2009
